
Seorang bintang, besar bukan hanya karena dirinya, yang diperbuatnya bukanlah apa-apa. Yang membuatnya lebih bersinar justru orang-orang yang berpendapat tentangnya. NO DIRECTION HOME, walau dinarasikan oleh Bob Dylan namun film ini lebih banyak memperlihatkan interview dengan beberapa teman-temannya : Bob Neuwrith, Liam Clancy, Allen Ginsberg, dll.
Robert Allen Zimmarmen terlahir dari keluarga kelas menengah di Duluth. Pemuda desa yang rajin mendengar radio dan penyendiri, sesekali tampil di panggung kecil seremonial di sekolahnya. Dia lihai menyanyikan lagu-lagu yang sudah terkenal tapi dibawakan dengan gaya khasnya, gitar dan alunan harmonika. Ini seperti mendengar lagu favorit tapi dengan aksen (logat) yang lain. “… not just for money, not just for fame, but he was hungry for experience, for getting out, for doing it.”

Ekspedisi musiknya makin terasah setelah dia mencoba untuk melanjutkan sekolah di Universitas Minnesota. Dia sering mengunjungi dan tampil di kafe tempat dimana penyanyi folk dan penyair muda berkumpul. Dengan mengenakan topi kecil, dia tak hanya menyanyi namun juga seperti memerankan Woody Guthrie, satu hal yang membuat penampilannya sulit dilupakan.
Di sanalah juga dia bertemu dengan ‘The Queen of Folk’, yang mengajaknya untuk sering tampil berdua bernyanyi di festival. “Joan Baez, she was staggering. Kind of like hit my world from a different angle. She was completely about folk music. She was an excellent, really excellent guitar player. When I saw her on television, I thought, you know, like : that girl looks like she might need a singing partner. " Namun idealismelah yang membuat mereka berpisah. “You know, it was probably a stupid thing to do, not letting her play. But you can’t be wise and in love at the same time, so… I hope she’d see the light sooner or later on that.”

Setelah semua orang menginginkannya dia seperti bosan terlalu diatur oleh penggemarnya, dia berkali-kali menolak disebut sebagai penyanyi folk. Hal ini membuatnya tampak seperti pengkhianat, hanya memanfaatkan nama besar Joan Baez dan musik folk, mengubah musiknya cenderung tunduk pada pasar. Seorang penggemar meneriakinya ‘judas’ di sebuah konser sebelum menyanyikan Like A Rolling Stone, sebuah cerpen 20 halaman yang dipadatkan menjadi sebuah puisi yang kemudian dialunkan sebagai sebuah lagu.
Like A Rolling Stone tergabung dalam album Highway 61 Revisited, yang digarap lebih serius karena sebelumnya album Bringing It All Back Home yang lagu-lagunya sebagian folk sebagian lagi menggunakan aransemen listrik. Musisi yang terlibat pun tak menampik betapa funnya ketika pembuatan album tersebut. Setiap orang tak peduli sudah berapa jam mereka di studio berisik untuk mencoba bereksperimen untuk membuat arransemen seperti yang diinginkan Bob Dylan. Mereka menikmati, seolah ada telepati yang menghubungkan mereka untuk senada, seperti karya yang ‘tiba masa tiba akal’ namun hasilnya jauh dari mengecewakan.

Pikiran kita tentang Bob Dylan teraduk oleh alur film yang maju-mundur pada film ini. Martin Scorsese ingin menampilkan bahwa orang yang tampil sederhana yang terlihat gugup terkena lampu sorot tunggal adalah juga orang yang kemudian bernyanyi di panggung konser dengan mata seperti orang kesurupan, lebih atraktif, memerankan entah apa, kadang menatap kosong, bernyanyi seolah tak ada penonton. “I wanna go home, you know what home is?” Dia tak tahu dimanakah dia bisa menyelesaikan lelahnya.


















