Kamis, 31 Mei 2012

NO DIRECTION HOME (2009)

Seorang bintang, besar bukan hanya karena dirinya, yang diperbuatnya bukanlah apa-apa. Yang membuatnya lebih bersinar justru orang-orang yang berpendapat tentangnya. NO DIRECTION HOME, walau dinarasikan oleh Bob Dylan namun film ini lebih banyak memperlihatkan interview dengan beberapa teman-temannya : Bob Neuwrith, Liam Clancy, Allen Ginsberg, dll.

Robert Allen Zimmarmen terlahir dari keluarga kelas menengah di Duluth. Pemuda desa yang rajin mendengar radio dan penyendiri, sesekali tampil di panggung kecil seremonial di sekolahnya. Dia lihai menyanyikan lagu-lagu yang sudah terkenal tapi dibawakan dengan gaya khasnya, gitar dan alunan harmonika. Ini seperti mendengar lagu favorit tapi dengan aksen (logat) yang lain. “… not just for money, not just for fame, but he was hungry for experience, for getting out, for doing it.”

Ekspedisi musiknya makin terasah setelah dia mencoba untuk melanjutkan sekolah di Universitas Minnesota. Dia sering mengunjungi dan tampil di kafe tempat dimana penyanyi folk dan penyair muda berkumpul. Dengan mengenakan topi kecil, dia tak hanya menyanyi namun juga seperti memerankan Woody Guthrie, satu hal yang membuat penampilannya sulit dilupakan.

Di sanalah juga dia bertemu dengan ‘The Queen of Folk’, yang mengajaknya untuk sering tampil berdua bernyanyi di festival. “Joan Baez, she was staggering. Kind of like hit my world from a different angle. She was completely about folk music. She was an excellent, really excellent guitar player. When I saw her on television, I thought, you know, like : that girl looks like she might need a singing partner. " Namun idealismelah yang membuat mereka berpisah. “You know, it was probably a stupid thing to do, not letting her play. But you can’t be wise and in love at the same time, so… I hope she’d see the light sooner or later on that.”

Setelah semua orang menginginkannya dia seperti bosan terlalu diatur oleh penggemarnya, dia berkali-kali menolak disebut sebagai penyanyi folk. Hal ini membuatnya tampak seperti pengkhianat, hanya memanfaatkan nama besar Joan Baez dan musik folk, mengubah musiknya cenderung tunduk pada pasar. Seorang penggemar meneriakinya ‘judas’ di sebuah konser sebelum menyanyikan Like A Rolling Stone, sebuah cerpen 20 halaman yang dipadatkan menjadi sebuah puisi yang kemudian dialunkan sebagai sebuah lagu.

Like A Rolling Stone tergabung dalam album Highway 61 Revisited, yang digarap lebih serius karena sebelumnya album Bringing It All Back Home yang lagu-lagunya sebagian folk sebagian lagi menggunakan aransemen listrik. Musisi yang terlibat pun tak menampik betapa funnya ketika pembuatan album tersebut. Setiap orang tak peduli sudah berapa jam mereka di studio berisik untuk mencoba bereksperimen untuk membuat arransemen seperti yang diinginkan Bob Dylan. Mereka menikmati, seolah ada telepati yang menghubungkan mereka untuk senada, seperti karya yang ‘tiba masa tiba akal’ namun hasilnya jauh dari mengecewakan.

Pikiran kita tentang Bob Dylan teraduk oleh alur film yang maju-mundur pada film ini. Martin Scorsese ingin menampilkan bahwa orang yang tampil sederhana yang terlihat gugup terkena lampu sorot tunggal adalah juga orang yang kemudian bernyanyi di panggung konser dengan mata seperti orang kesurupan, lebih atraktif, memerankan entah apa, kadang menatap kosong, bernyanyi seolah tak ada penonton. “I wanna go home, you know what home is?” Dia tak tahu dimanakah dia bisa menyelesaikan lelahnya.

Senin, 28 Mei 2012

HOWL (2010) : MIMPI-MIMPI SANG PENYAIR


KILL YOUR DARLINGS
kabarnya akan rilis tahun depan (2013) dengan Daniel Radcliffe yang dipercayakan memerankan Allen Ginsberg setelah sebelumnya peran ini ditolak oleh Jesse Eisenberg. Entah, apa jadinya nanti. Apakah seperti masyarakat Indonesia yang baru mengenal Soe Hok Gie lewat film dengan membayangkannya sebagai seseorang yang cool dan tampan seperti Nicholas Saputra. Positifnya, banyak yang tahu dan tergerak untuk mengenal lebih jauh lagi sosok Gie.



Sebelumnya, sebuah film yang bercerita tentang Allen Ginsberg adalah HOWL. Howl adalah sebuah puisi kontroversial beliau, sampai-sampai harus dibawa ke meja hijau karena menggunakan bahasa yang dianggap terlalu vulgar. Satu puisi pun diinterpretasikan dengan animasi, menggambarkan keresahan-keresahan sang penyair, tentang rasa sukanya sesama jenis, tentang perang, digambarkan seperti mimpi buruk yang dihantarkan dengan musik jazz.



Bertindak sebagai narrator, yang bercerita dalam film tersebut adalah Allen Ginsberg sendiri yang diperankan dengan cemerlang oleh James Franco. Seperti menonton sebuah dokumenter, Allen Ginsberg diwawancarai di rumahnya, hitam putih dan warna menjadi pembeda antara cerita masa lalu dan Ginsberg sendiri saat bercerita.


James Franco dan bacaan kerennya, sayang dia sudah.... :P

Selasa, 22 Mei 2012

EAT THE DOCUMENT (1972)



Film ini bisa dikatakan, lanjutan dari Film DONT LOOK BACK (1967). IMDB mencantumkan tahun perilisan film ini pada tahun 1972 namun sebenarnya film ini tidak pernah dirilis, hanya semacam home movies, dokumenter pribadi besutan D.A. Pennebaker dimana Bob Dylan saat mengadakan tour 1966 di Inggris.

Betapa dua film ini berbeda, DON’T LOOK BACK seluruhnya tampil hitamputih dan lebih terstruktur sedangkan EAT THE DOCUMENT telah berwarna walau gambarnya kurang cemerlang untuk dinikmati. Gambar-gambarnya tak meruntut sebuah cerita, kita tidak bisa bertanya dalam benak “kemudian.. kemudian… kemudian…” karena pengambilan gambarnya mengikuti apa saja yang dilakukan Bob Dylan dan tim.

Eksklusif, mungkin kata itu yang membuat film ini sedikit lebih istimewa. Film ini langsung dibuka dengan tawa terbahak-bahak Bob Dylan sebelum bermain piano di sebuah ruangan bersama beberapa temannya, mungkin sedang mabuk atau semacamnya. Bagaimana mereka menikmati makan, latihan, menyempatkan diri bernyanyi bersama Johnny Cash dan rehat di tengah perjalanan panjang, di kejar anjing sampai-sampai Bob Dylan dan Richard Manuel yang menemaninya harus memanjat ke atap rumah penduduk setempat.





D.A. Pennebaker juga menyempatkan diri mengambil gambar di luar pintu ruangan tempat konser, mewawancarai beberapa penonton yang keluar karena baru saja ruangan meriah akan teriakan (booing). Mereka shock, Bob Dylan yang datang setahun sebelumnya sangat berbeda dengan yang sekarang, konser rusuh karena penonton bagian depan satu per satu naik ke panggung, Bob Dylan diamankan ke belakang panggung sebelum diamuk penontonnya sendiri.

Emosinya sepertinya tumpah pada lagu The Ballad of Thin Man, dia bermain piano sembari (terlihat) memerankan kemarahannya sendiri. Dia dan penonton seperti sedang berdebat, satu sama lain ingin mendengarkan apa yang mereka inginkan. Bosan, lelah dan emosi, tetapi kemudian dia bersenang-senang dengan John Lennon di sebuah limusin yang mengantarnya menuju hotel tempatnya menginap. Sebuah permainan harmonika panjang menutup lagu Hey Mr. Tambourine Man, harmonika ‘keterpaksaan’ karena Bob Dylan tak akan berubah seperti yang diingini penggemarnya yang telah menjelma menjadi pembencinya sekaligus.

But it ain’t me, babe
No, no, no, it ain’t me, babe
It ain’t me you’re lookin’ for, babe

Penggalan lagu It Ain’t Me, Babe menjadi penutup film ini dengan menampilkan Bob Dylan bergegas menuju pesawat yang akan mengantarnya pulang ke Amerika.



Minggu, 20 Mei 2012

MODERN MEMBINGKAI KLASIK DALAM FILM HUGO (2011)


Méliès, lelaki tua, setiap hari ke stasiun kereta api untuk menjaga stand miliknya. Dia bekerja memperbaiki segala sesuatu yang rusak. Segala sesuatu sepertinya bisa dia atasi kecuali ketukan-ketukan sepatu berhak yang lewat di depannya, sol-sol sepatu yang menghentak lantai berlalu-lalang seperti hantu baginya karena sol-sol sepatu tersebut adalah daur ulang dari film-film yang telah dibuatnya.

Perang Dunia menghilangkan sosok hebat seperti George Méliès. Dunia carut-marut, tak ada waktu untuk menonton film dan sebagainya. Dia membakar semua properti filmnya dan mengubur semua kehebatan dirinya yang telah berhasil digapainya. Dengan hasil menjual filmnya yang sudah tak laku ke perusahaan sepatu, dia berusaha hidup menjadi warga negara biasa. Seorang anak yatim-piatu dan miskin (pula) selalu memperhatikannya, punya keahlian yang sama dengannya : memperbaiki yang rusak.

Hugo kemudian diterima bekerja di standnya untuk membayar barang-barang yang telah dicuri Hugo yang kemungkinan mempunyai fungsi untuk memperbaiki sebuah ‘boneka besi’ peninggalan ayahnya. Setelah dibantu oleh Isabelle, putri Méliès, akhirnya robot tersebut bergerak menggambarkan petunjuk. Isabelle kaget, karena di bawah gambar ‘bulan yang mata kanannya terkena peluru’ tertulis nama ayah angkatnya, George Méliès. Maka fakta satu persatu terkuak, pencipta robot tersebut adalah Méliès yang juga adalah seorang seniman, pesulap, yang kemudian tertarik mengaplikasikan trik-trik sulapnya ke film-filmnya. Kurang lebih 300an film hebat yang disutradai olehnya menandai kemajuan film pada akhir 1890an. Hugo membangunkan masa lalu sang veteran film yang tak dikenal tersebut.

Menonton film ini, mengajak kita mengintip beberapa film-film hitam putih nan klasik dan fenomenal yang pernah ada, adegan orang yang hampir jatuh dari jam menara dalam Film Safety Last! (1923), ada penonton yang spontanitas berteriak sembari merunduk karena mengira diri mereka akan ditabrak kereta api yang berjalan dalam Film The Arrival of a Train at La Ciotat Station (1895), dan masih banyak lainnya.

Sepertinya Martin Scorsese membuat Film Hugo ini untuk menghargai keberadaan film-film klasik. Dia berhasil meramu film ini tak menjemukan walau durasi filmnya mencapai dua jam. Dia seperti menyuguhkan kenyataan berbingkai dongeng seperti layaknya legenda, detail-detail Perancis pada awal 1900an pun berhasil dia tampilkan. Asa Butterfield (Hugo), bisa menyampaikan kemisikinannya walau dengan tajam sorot matanya yang biru. Helen McCrory (Jeanne d'Alcy, istri Méliès) yang sukses tampak lebih tua dari umurnya yang asli dan Chloë Grace Moretz (Isabelle), berhasil menipu kita dengan aksennya bahwa dia sepertinya bukan seorang aktris dari Amerika serta… Martin Scorsese adalah salah satu sutradara senior hebat yang dimiliki Hollywood.

Kamis, 10 Mei 2012

Petualangan Sabine dalam Film Dschungelkind (2011)


Salju setinggi lutut, tapi Sabine Kuegler, seorang gadis Jerman melepaskan sepatu bootnya dan berjalan di tengah es yang membuat memorinya terdampar pada masa-masa kecilnya. Dia bercerita betapa indahnya saat dia dan keluarganya mengikuti Ayahnya yang seorang misionaris untuk menetap di Papua pedalaman menjalankan tugasnya. Sabine yang mencintai petualangan terlihat senang menjadi bagian dari hutan eksotik dimana Suku Fayu hidup. Kehidupan penduduk asli masih sangat kental dengan peraturan adat yang sangat berbeda dengan adab-adab yang berlaku di Eropa.

Bukan sebuah masalah bagi gadis kecil ini, tapi justru masalah bagi keluarganya. Ibunya yang seorang perawat tak bisa tinggal diam menyaksikan betapa orang-orang di sana dibiarkan sakit atau terluka tanpa diobati sama sekali karena Suku Fayu percaya itu sebuah kutukan yang harus diterima. Juga bagi kakaknya yang menyukai melukis dan lebih manja, terkadang takut jika harus berinteraksi langsung dengan penduduk setempat. Sekaligus, kondisi seperti ini merupakan tantangan bagi Ayahnya yang berusaha mengajarkan perdamaian dimana penduduk di sana sering melaksanakan perang antar kelompok.



Auri, seorang anak yang terluka dan terjebak di dalam hutan sudah berhari-hari yang kemudian ditemukan oleh Sabine dan adiknya saat memasuki hutan. Mereka menolongnya, namun justru menimbulkan masalah. Auri adalah anak kecil dari kelompok seberang, musuh bagi kelompok di mana keluarga Kuegler menumpang. Sedikit demi sedikit, Ayah Sabine mengajarkan dialog kepada penduduk yang diakhiri dengan makan malam ‘daging buaya’ di meja makan. Maka, penduduk setempat akhirnya bisa menerima, Auri menjadi anak angkat bagi keluarga Kuegler dan dewasa di keluarga tersebut. Hubungan Sabine dan Auri pun telah menjadi teman spesial. Namun pasti kisah cinta mereka tak selalu berjalan mulus. Kehadiran Auri diketahui oleh Suku Fayu kelompok seberang, membuat mereka “harus” meneruskan kutukan yang telah diterima Auri yang dikira mereka telah mati. Sabine sedih karena Auri telah benar-benar meninggal, membuatnya memutuskan untuk kembali menjadi ‘manusia modern’, pulang ke Jerman.


Cara memberi salam dalam Suku Fayu

Banyak ulasan tentang film ini justru mengangkat betapa Sabine mengalami shock culture, entahlah! Bisa saja luarbiasa jika yang menonton adalah manusia Eropa, mungkin karena saya dari Indonesia jadi bagi saya biasa-biasa saja. Tapi, film ini berhasil mengeksplor dan begitu banyak memberi pengetahuan tentang adat asli Papua, bahwa yang indah itu tak hanya (misal) di Bali dan Lombok.

Senin, 07 Mei 2012

DONT LOOK BACK (1967)*

Apa alasan Albert Grossman begitu ingin mendokumentasikan sang bintang, Bob Dylan? Apakah karena memang dia menganggap binar yang dimiliki Bob Dylan perlu disimpan untuk diketahui di masa depan? Ataukah hanya sekedar dokumentasi saja, seperti halnya kita punya album foto, suatu saat nanti kita membuka-bukanya untuk menggedor lagi pintu kenangan? Yang jelas saya tidak akan mengenal Bob Dylan dalam layar hitam-putih ala tahun 60-an yang keren ini jika Albert Grossman tidak punya inisiatif waktu itu untuk memfilmkannya.

Maka pada tahun 1965 ditunjuklah D.A. Pennebaker bergabung dalam tim ‘di belakang layar’, sebagai pihak yang dipercayakan Albert Grossman untuk membuat film. Dia dengan memikul kamera kemana-mana mengikuti Bob Dylan dan tim, di bandara, di kerumunan fans, saat istirahat, bahkan sampai layar hitam-putih menjadi berwarna. D.A. Pennebaker berhenti memfilmkan Bob Dylan ketika Bob Dylan mengalami kecelakaan pada pertengahan 1966 sehingga harus vakum tour beberapa tahun. Dari sekian banyak rentetan gambar, video tour Bob Dylan di Inggris (1965) yang disatukan D.A. Pennebaker, kemudian dilabeli DONT LOOK BACK yang justru baru diluncurkan ke publik pada tahun 1967. Yang jelas, Albert Grossman begitu cerdas meluncurkan film ini justru saat Bob Dylan beristirahat, semacam pengisi vakumnya tour Bob Dylan karena kecelakaan. Mungkin pula Bob Dylan tengah memikirkan, menciptakan dirinya yang baru setelah dicaci maki ‘judas’, pengkhianat musik folk.

The Times They Are a-Changin' dinyanyikan dengan tempo lebih cepat, seperti orang yang kebosanan menyanyikan lagu tersebut. Lagu ini terlalu sering menjadi lagu pembuka saat Bob Dylan membuka konsernya barulah kemudian diikuti lagu-lagu berikutnya. Bob seperti memaksa diri tampil untuk tetap enjoy dengan gitar akustiknya walau pada faktanya dia justru selesai menggarap Bringing It All Back Home yang memperkenalkan musiknya yang mulai merambah instrumen listrik, yang sangat berbeda dengan album-album sebelumnya. Meski begitu, The Times They Are a-Changin’ tetap mendapat tepuk tangan yang meriah dari audiens.



Film ini dibuka dengan pembuatan video klip eksperimen Subterranean Homesick Blues, salah satu track dalam Bringing It All Back Home yang konon justru digolongkan lagu rap dengan musik listrik mengiringnya, yeap, bisa dikatakan rap-kontemporer hasil eksperimen Bob Dylan. Heheheh. Tampak di depan Bob Dylan memegang beberapa lembar kalimat (lirik lagu Subterranean Homesick Blues) kemudian melemparkannya satu persatu seiring dengan berjalannya lagu, di samping itu terdapat Allen Ginsberg dan Bob Neuwirth (sahabat-sahabat Bob Dylan) sebagai model figuran di belakang. Video klip ini, menurut pengakuan Pennebaker sendiri justru bagian paling belakang dari semua rentetan dalam film tersebut, untuk membuka sinergi antara judul dan isi film tersebut, bahwa apa-apa sajakah yang terjadi.

Alih-alih memberi judul DONT LOOK BACK, justru memperlihatkan betapa masih antusiasnya masyarakat musik terhadap genre folk Bob Dylan walau dia sendiri telah bosan disematkan sebagai folk-singer. DONT LOOK BACK sendiri adalah petikan lirik dari lagu She Belongs to Me (salah satu track Blonde-Blonde - 1965) yang pada saat film ini masih dalam tahap dibuat. Pada awal film kita bisa melihat dia menyanyikan lagu ini hanya sebait di belakang panggung, masih mentah. Seperti lagu Love Minus Zero/No Limit yang juga masih mentah namun sudah sering dibawakannya secara akustik untuk menutup setiap konsernya, sekedar membocorkan albumnya yang akan diluncurkan.



Bob Dylan dan tim bekerja keras karena selain mempersiapkan begitu banyak tour, mereka juga membuat “rekaman jalan” album Bob Dylan yang selanjutnya. Namun Bob Dylan seperti yang dikenal bukan hanya musisi, dia juga penyair. Di sela-sela kesibukannya dia sering mengetik saat istirahat menuangkan idenya. Joan Baez bahkan bernyanyi untuknya saat dia mengetik, dan sepertinya Bob Dylan tergoda untuk bernyanyi. Ahah, mereka berdua berhasil mengkover dua lagu Hank Williams dengan cantik di depan teman-temannya, dan kemudian kembali… tik tik tik, tik tik tik tik, mengetik! Di tengah kesibukannya pula, Bob Dylan sengaja mengagendakan bertemu dengan Donovan, yang disebut-sebut sebagai “Bob Dylan versi England”, mereka saling menyanyikan lagunya satu sama lain namun sebelumnya, Donovan dan beberapa orang di ruangan tersebut telah menjadi saksi betapa Bob Dylan juga seorang pembuat onar, menyalahkan tanpa alas an seorang temannya sehingga membuat ricuh.

Sikap ‘bangsat’nya pula terselip saat seorang wartawan mewawancarainya sebelum tour. Dia dengan semena-mena mengembalikan pertanyaan sang wartawan dengan umpatan-umpatan. Mungkin Bob Dylan lelah, bosan terus-terusan ditanya. Selanjutnya, diantara banyak penggemar malah kemudian balik mencacinya sehingga pers melabelinya anarchist sehingga dia membuat lelucon "Give the anarchist a cigarette" membuat Albert Grossman, Bob Neurwith dan seisi mobil yang ditumpanginya tertawa.

Yah, mobil tersebut mengantar mereka pulang ke Amerika, penikmat musik di Inggris sudah mulai mengandung janin kebencian terhadap dirinya namun dia masih bisa bercanda di tengah konsernya, mengubah bait lagunya dengan cerdas, mengganti “Abraham Lincoln” dengan “T.S Elliot” pada lagu Talkin' World War III Blues. Begitupun saat dia menyebut sebuah judul lagu, “It’a Alright Ma, Im Bleeding Ho Ho Home” seperti menjiplak cara tertawa Santa Claus. Semua penonton menghargai itu dengan tertawa, namun tahun berikutnya (1966) mereka akan dibuat shock akan perubahannya. Film ini luncur pada tahun 1967, seperti memperingatkan bahwa jangan melihat ke belakang, Bob Dylan bukan lagi penyanyi folk dan memang menolak disebut seperti itu, dia kembali sebagai musisi, penyanyi ‘lintas genre’. Seperti pesan yang (tampaknya) ingin selalu disampaikan Bob sendiri kepada penikmat musik, tak perlu banyak tanya, nikmatilah saja, suka atau tidak suka itu terserah!




*Film ini dirilis ulang pada tahun 2007 dengan bonus (tambahan) video yang tidak ada dalam film tersebut. *hiks ingin punya!

Kamis, 03 Mei 2012

TERDAMPAR ke MODUS ANOMALI




Menjadi 'beda' tidak pernah mudah
banyak yang tidak suka kepada kita karena kita dianggap musuh mereka
tapi kita harus hadapi
sebagian orang sangat membenci kita karena kita berbeda
dianggap tidak punya cita-cita yang sama bahkan dianggap sebagai penghalang
lebih baik diterima sebagai diri sendiri daripada sebagai orang lain
Elu gak bisa paksa semua orang suka sama elu
biarin aja mereka
tapi yakinlah di luar sana banyak orang yang bisa nerima dan hargain elu
karena menjadi beda adalah istimewa

~JOKO ANWAR


THE RAID bisa saja lebih terkenal daripada film-film made in Indonesia tahun 2012, menjadi TRENDING TOPIC di twitter. Ah terkadang justru bersyukur belum termasuk orang yang betah di twitter, di sana tempatnya info-info terbaru berkejar-kejaran, sarang beberapa selebritis menyapa penggemarnya, bentuknya lebih simpel daripada facebook yang telah lebih dulu menjadi sindrom maya akut kebanyakan masyarakat. Selain karena saya tidak terlalu suka 'keramaian', ternyata saya lebih suka berlama-lama di facebook yang kata orang lebih ribet.

Twitter atau facebook, memang hanya soal pilihan masing-masing, namun TRENDING TOPIC dimana facebook belum punya fasilitas ini, bagi saya terkadang menampilkan hal-hal yang tidak begitu penting, fenomena Sinta-Jojo sampai-sampai ada orang bule yang ikut-ikutan lypsinc di youtube dengan lagu Keong Racun walau sebenarnya mereka tidak tahu benar apa arti dari isi lagu tersebut, atau tentang Polisi cakep yang tiba-tiba membuat gempar dunia twitter tersebut. Mengapa mesti begitu? TRENDING TOPIC begitu mengIndonesia, karena kebanyakan twitter di isi oleh orang Indonesia.

Belum punya hal seperti TRENDING TOPIC, itulah salah satu kekurangan dari facebook yang membuat saya betah di sana. Lalu, apa hubungannya dengan JOKO ANWAR? Jika Anda penikmat film Indonesia pasti nama ini tak asing lagi. Sosok yang unpredictionable ini adalah seorang sutradara/penulis skenario di antaranya Janji Joni, Fiksi, Kala, Pintu Terlarang dan yang terbaru MODUS ANOMALI. Memulai karir dari film yang bergenre romantis-komedi kemudian membuat hentak dengan Kala yang kelam karena ini thriller. Saat mengajukan skenario film Janji Joni, Nia Dinata ragu, tapi Nia justru kaget setelah membacanya dan Joko Anwar membuktikan bahwa dia mampu.

Film-film karyanya tidak ramai diperbincangkan, jadi memang untuk siapakah ditujukan film-filmnya? Dia mengatakan film-film ini dia tujukan untuk pencinta film. Yeap, tekankan itu, buat pencinta film, seperti dirinya, dia bukan orang yang mengutamakan 'cinta pada uang penonton' meski tidak dapat dinafikkan semua film pastilah diharapkan 'kembali modal'. Tapi TheJokster (akunnya di kaskus, yeah dia ngekaskus juga) ini beda, dia hadir di tengah kondisi perfilman nusantara kita yang masih 'terbelakang'. Dia menghadirkan idenya yang beda untuk para penikmat film yang sudah bosan dengan film yang itu-itu saja.Walau tak terlalu merajai topik-topik perbincangan, tapi saya rasa dia puas berkarya, dengan keberbedaannya, dengan orisinalitas karyanya.

MODUS ANOMALI yang telah bergaung di beberapa festival film memang membuat kita jadi asing, membuat kita jadi aneh. Saya saat pertama kali menonton trailernya harus kecewa karena dialognya memakai Bahasa Inggris (maklum, engglisy saya menyedihkan, ehehehe), walau kemudian banyak yang mengatakan bahwa masih banyak aktornya yang masih perlu belajar dalam hal bahasa ini, sebagaimana yang di sitilahkan oleh RollingStone dengan 'INGGRONESIA'. Tapi kemudian justru membuat saya berfikir, dengan kekurangan tersebut akan membuat orang bule merasa asing begitupula dengan orang Indonesia. Bisa bahasa Inggris maupun tidak bisa sama-sama merasa harus jadi 'orang lain', terdampar pada film Modus Anomali ini.

Saya tak mau banyak bicara banyak tentang filmnya sendiri, karena saya sendiri belumlah menontonnya sekalipun, ehehehehe. Saya masih dalam tahap menganalisa review beberapa penikmat film yang bertebaran di dunia maya mengenai film ini. Cerita inti sudah saya mengerti, tapi percayalah, mengetahui pokok dari film karya JOKO ANWAR tidaklah cukup, sangaaaaat tidak cukup. Anda harus menontonnya dan merasakan dengan mata kepala Anda sendiri bagaimana dia membuat rentetan adegan yang bikin ngilu. Saya hanya bisa mengatakan : Joko Anwar bukan gila, melebihi gila, dia SAKIT! Sayangnya, konon Modus Anomali ini adalah thrillernya yang terakhir.